Adaptasi, Aklimatisasi, dan Aklimasi

Posted by ritah07 on 20 June 2010 in Academic |

Sejumlah besar vertebrata mampu mengatur kesensitifan tubuhnya sampai mendekati tercapainya temperatur ekstrim. Dalam hal ini, binatang yang berada selama beberapa waktu dengan temperatur yang mendekati batas temperatur yang kritis bagi kehidupannya menjadi lebih toleran temperatur. Selain itu, batas temperatur kritisnya menjadi makin lebar. Sebagai contoh, bila suatu spesies ikan yang biasanya mati pada temperatur air 38 oC dibiarkan selama beberapa hari terus menerus barada dengan temperatur 37 oC, ikan tersebut selanjutnya mungkin bisa bertahan hidup lingkungan temperatur 38 oC. Kematiannya mungkin terjadi bila mereka berada pada temperatur 39 oC atau lebih. Penyesuaian toleransi terhadap panas (hanya melibatkan temperatur saja) disebut aklimasi.

Perubahan faktor lingkungan abiotik utamanya seperti perubahan musiman dalam periode penyinaran (menentukan lama waktu siang hari dan malam hari), ketersediaan pakan, dll. yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama dapat mempengaruhi toleransi binatang. Pada kondisi yang demikian itu, berlangsung pengaturan fisiologi secara lebih mendalam sehingga memungkinkan binatang tersebut mampu bertahan hidup pada lingkungan yang berubah tersebut. Bentuk penyesuaian diri terhadap kondisi lingkungan yang berubah atau baru tersebut dan berlangsung dalam jangka waktu lama itu dikenal sebagai aklimatisasi. Sedangkan bentuk penyesuaian diri terhadap berbagai faktor lingkungan itu dikenal sebagai adaptasi. Jadi, aklimasi dan aklimatisasi merupakan macam-macam dari adaptasi.

Beauveria bassiana

Posted by ritah07 on 20 June 2010 in Academic |

Beauveria bassiana

Beauveria bassiana adalah cendawan mikroskopik dengan struktur somatik berbentuk benang-benang halus (hifa septat). Kemudian hifa-hifa tadi membentuk koloni yang disebut miselium. Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. spora jamur ini ternyata tumbuh berkelompok, sehingga berupa bola-bola spora (Hindayana Dadan, 2002). Struktur reproduksi seksualnya berupa askospora yang terdapat di dalam askus, sedangkan struktur reproduksi aseksualnya adalah berupa konidium yang dihasilkan oleh sel konidiogen secara akropetal.

Beauveria bassina adalah parasit yang sangat agresif, spora dan hifanya tidak berpigmen atau hialin. Kumpulan spora (miselium) berwarna putih dengan ukuran sporanya hanya sekitar 2-3 mikron. Penyimpanan pada suhu 5OC menunjukkan kemampuan mempertahankan viabilitas spora Beauveri bassiana kering murni lebih lama daripada kondisi suhu 23OC dan suhu 29OC. Cendawan entomopatogen, Beauveria bassiana dapat diperoleh dari tanah terutama pada bagian atas (top soil) 5 – 15 cm dari permukaan tanah. Beauveria bassiana dapat bertahan di dalam tanah sebagai kompetitor lemah dan terdistribusi secara heterogen sehingga dapat diisolasi dari sampel tanah pada kedalaman 5 – 15 cm.

Susunan taksonomi Beauveria bassiana

Domain          : Eukaryota

Kingdom        : Fungi

Subkingdom : Dikarya

Phylum          : Ascomycota

Subphylum   : Pezizomycotina

Class              : Ascomycetes

Subclass       : Hypocreomycetidae

Ordo               : Hypocreales

Family           : Clavicipitaceae

Genus             : Beauveria

Species          : Beauveria bassiana

Beauveria bassiana adalah cendawan yang tumbuh di tanah secara alami. Species ini dinamakan Beauveria bassiana karena ditemukan oleh seorang entomologis asal italia, yaitu Agostino Bassi. Beauveria bassiana memiliki bentuk anamorf dari Cordyceps bassiana. Penyakit yang disebabkan oleh beauveria adalah penyakit white muscardine pada ulat sutra.

Dengan menggunakan cendawan Beauveria bassiana sebagai biopestisida, tentu tidak mencemari dan merusak lingkungan seperti yang terjadi jika kita menggunakan pestisida kimia, walaupun keberhasilan dari insektisida biologis dari jamur ini memberikan dampak positif terhadap pengendalian serangga hama tanaman dan keselamatan lingkungan. telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur Beauveria Bassiana. Jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphids sp.) pada tanaman sayuran.

Sistem kerjanya, yaitu spora jamur Beauveria bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Selain itu inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang dapat berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kutikula tubuh serangga. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, Miselium jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidium. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih

Beberapa keunggulan jamur patogen serangga B. bassiana sebagai pestisida alami, yaitu :

1.   Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.

2.   Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.

3.   Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman

4.   Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

5.   Untuk memperoleh hasil pengendalian yang efektif, penyemprotan sebaiknya dilakukan sore hari (pukul 15.00 – 18.00) untuk mengurangi kerusakan oleh sinar ultraviolet.

1

Kontribusi stem cell dalam regenerasi dan mengobati penyakit yang sulit disembuhkan

Posted by ritah07 on 19 June 2010 in Academic |

Kontribusi stem cell dalam regenerasi dan mengobati penyakit yang sulit disembuhkan

Stem Cell telah lamadigunakan dalam terapi untuk kelainan hematologis, seperti leukemia. Namun, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa stem cell mampu berbuat lebih dari itu. Saat ini stem cell merupakan bintang baru dalam pengobatan penyakit jantung bahkan stroke. Stem cell memiliki kemampuan untuk berubah menjadi sel lain, mengembara menuju daerah yang mengalami kerusakan, serta bergabung dengan sel lain di jaringan yang rusak tersebut. Kemampuan itulah yang dimanfaatkan dalam reparasi dan regenerasi jaringan sehingga stem cell dapat digunakan dalam pengobatan.

Menurut Prof. DR. Dr. Teguh Santoso, Sp PD-KKV, SpJP, saat ini stem cell telah digunakan dalam pengobatan penyakit jantung seperti Infark Miokard Akut dan Gagal Jantung. Stem cell didapatkan dari tiga sumber, yaitu stem cell embrional, stem cell dari tali pusat dan plasenta, serta stem cell dewasa. Stem cell embrio diambil dari embrio pada fase blastosis. Massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung stem cell embrionik. Sel-sel diisolasi dari masa sel bagian dalam dan dikultur secara in vitro. Stem cell ini bersifat pluripoten yang artinya dapat terspesialisasi menjadi berbagai jenis sel seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel hati, sel-sel ginjal.

Stem cell dari tali pusat dan plasenta yang diperoleh dari darah tali pusat (umbilical cord blood) dan plasenta bayi yang baru lahir. Stem cell yang terdapat dalam darah tali pusat ini tergolong stem cell dewasa. Sedangkan stem cell dewasa biasa ditemui pada sumsum tulang (bone marrow), darah tepi (perifer blood), jaringan lemak (adipose tissue). Stem cell dewasa bersifat multipoten yang berarti dapat dispesialisasikan menjadi berbagai jenis sel. Salah satu diantaranya adalah stem cell hematopoietik (hematopoietic stem cells) yaitu stem cell pembentuk darah yang mampu membentuk sel darah merah, sel darah putih dan keping darah yang sehat.

Stem cell telah terbukti dapat mengobati penyakit yang sulit disembuhkan seperti kanker darah (leukimia). Seiring dengan penelitian stem cell di seluruh dunia, stem cell telah diaplikasikan dan akan diteliti sebagai pengobatan terhadap penyakit lain seperti Parkinson, Alzheimer, luka Spinal Cord, Stroke, Luka Bakar, Penyakit Jantung, Diabetes, Osteoporosis, Sirosis hati, Osteoarthitis, Kanker dll.

Dalam pengobatan penyakit jantung digunakan stem cell dewasa yang terutama berasal dari sumsum tulang. Sumsum tulang dapat dirangsang untuk mengeluarkan stem cell ke dalam aliran darah sehingga lebih mudah untuk diambil. Setelah diambil stem cell harus diproses untuk dilakukan pemisahan dan pemurnian stem cell. Setelah itu, barulah stem cell dapat disuntikkan lagi ke jantung sehingga terjadi reparasi dan regenerasi sel-sel otot jantung.

Cara paling sering untuk memberikan stem cell adalah dengan menyuntikkan sel induk langsung ke dalam pembuluh darah koroner. Cara ini mudah, aman, relatif tidak mahal, dan baik untuk penderita pasca serangan infark jantung yang sudah mengalami intervensi koroner perkutan dan pemasangan stent pada pembuluh darah yang semula tertutup saat serangan.

Cara lain adalah menyuntikkan stem cell langsung ke otot jantung. Untuk ini, stem cell dapat disuntikkan dengan operasi terbuka. Cara ini amat invasif, mahal, berisiko tinggi, dan tidak semua daerah pada jantung dapat dicapai. Cara lain adalah menyuntikkan lewat kateter yang dimasukkan ke dalam bilik jantung.

Ada sistem baru pemberian stem cell pada jantung, yaitu NOGA. Sistem itu memakai alat yang memetakan secara amat tepat daerah jantung yang butuh terapi stem cell sehingga kateter bisa diarahkan dengan tepat sehingga penyuntikan amat terarah ke lokasi target. Teknik ini dipakai untuk pengobatan jantung dengan kerusakan lanjut disertai gagal jantung atau angina (nyeri dada akibat penyempitan pembuluh koroner).



Copyright © 2010-2017 ritah07's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.